Sumbawa Besar (Sumbawasatu.com)-
Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah (LINKKAR) menggelar kegiatan Pemutaran Film dan Diskusi Budaya di MAN 2 Sumbawa, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan yang bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan melalui program Dana Indonesiaraya ini mengajak siswa memahami nilai-nilai budaya, persoalan sosial, serta pentingnya menjaga lingkungan melalui film.
Direktur Eksekutif LINKKAR, Amilan Hatta, M.Si., dalam pengantarnya menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda menonton film, melainkan ruang belajar bersama untuk memahami kehidupan, kebudayaan, dan berbagai persoalan sosial di lingkungan masyarakat.
Ia menyoroti peredaran dan penyalahgunaan narkoba sebagai salah satu tantangan yang dihadapi generasi muda di Kabupaten Sumbawa. Karena itu, film diharapkan menjadi media pembelajaran yang mampu mendorong siswa berpikir kritis, memahami konsekuensi tindakan, dan membangun empati terhadap sesama.
“Film dapat menjadi cermin kehidupan masyarakat yang memperlihatkan persoalan, pilihan, konflik, dan akibat dari tindakan manusia. Siswa tidak hanya diajak menikmati cerita, tetapi juga belajar membaca realitas di sekitarnya,” ujarnya.
Amilan juga menekankan bahwa kebudayaan tidak sebatas tarian, musik, pakaian adat, atau tradisi. Lebih dari itu, kebudayaan mencakup nilai, perilaku, tanggung jawab, serta cara manusia memperlakukan sesamanya.
Dalam diskusi tersebut, CEO Rajasua Production, Junaidi Latief, M.Pd., memaparkan pesan budaya dalam film Kamaki. Film ini mengangkat cerita fiksi yang terinspirasi dari mitos dan legenda lokal mengenai Baki, sosok makhluk gaib yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai penjaga kawasan hutan.
Menurut Junaidi, cerita tersebut tidak hanya menghadirkan unsur misteri, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang pelestarian hutan dan perlindungan mata air. Melalui kisah Baki, film ini menggambarkan hubungan masyarakat dengan alam, pantangan yang dipercaya, serta warisan kepercayaan leluhur yang masih bertahan di tengah kehidupan modern.
Sementara itu, budayawan Qadimullah, S.Sos., mengulas nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Barempuk, terutama nilai spiritual, rasa syukur, keberanian, dan jiwa kesatria.
Ia menjelaskan, Barempuk secara turun-temurun dilaksanakan di area persawahan saat musim panen raya atau mata’ rame sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah.
Sebelum bertanding, para peserta melakukan Ngumang, yakni melantunkan bait lawas, pantun, atau syair daerah sambil menggenggam tangkai padi untuk mencari lawan yang seimbang.
Tradisi tersebut, lanjutnya, juga mengajarkan keberanian menghadapi tantangan secara terbuka dan jujur. Suasana adu pukul dalam arena Barempuk menjadi bagian dari perayaan panen yang sarat kegembiraan dan kebersamaan masyarakat.
Dari perspektif akademis, Sudarajat Martadinata, M.S.A., menyoroti Barempuk sebagai tradisi yang memperkuat hubungan sosial masyarakat. Kegiatan ini mempertemukan warga dari berbagai penjuru desa dalam satu ruang kebersamaan.
Menurutnya, pertandingan, sorak-sorai penonton, serta canda tawa di pinggir sawah menjadi bagian dari interaksi sosial yang mempererat silaturahmi, persatuan, dan solidaritas masyarakat agraris Sumbawa.
Melalui pemutaran film dan diskusi budaya ini, LINKKAR berharap generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga mampu memahami nilai-nilainya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga lingkungan serta menghadapi tantangan sosial di tengah masyarakat.(ind/r)

Komentar